Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan

11.2.13


Senin, 11-02-13, sekitar pukul 14:00 wib. Gingsul ku dicabut paksa dr tempatnya. Pertama kalinya liat gigiku berlumur darah, mengerikan! menurut org yg mencabutnya, gigiku ini panjang sekali. Hohoho. Gigi ini akan ku jaga sebaik-baiknya dari jangkauan peri gigi.

1.2.13

Baru saja selesai menikmati nikmatnya makan pagi (sekaligus makan siang). Setelah selesai makan, seperti biasa aku duduk-duduk dulu untuk membuat perutku nyaman. Tidak enak rasanya setelah makan kemudian langsung berdiri. Makanan yang ditelan juga butuh waktu untuk mengalir hingga ke organ pencernaan.
Sembari duduk-duduk, aku memperhatikan ada kegiatan tak lazim di depanku. Seekor semut berwarna hitam sedang mondar mandir mengitari sebuah titik kecil hitam di meja makan. Ku pikir tadinya itu makanan yang menempel. Karena si semut berusaha menariknya. Si semut hitam terlihat panik dan bingung (entah kenapa aku bisa berpikir seperti ini). Setelah aku perhatikan dengan seksama, titik kecil hitam itu bukanlah makanan. Namun, bagian tubuh seekor semut yang telah tewas. Semut hitam yang sedang panik itu ternyata berusaha mengangkat tubuh temannya. Dia mencoba dari berbagai sisi, tapi sedikitpun tak bergeming. Mendadak aku merasa bersalah. Mungkin aku yang membunuhnya secara tidak sengaja saat menggeser mangkuk-mangkuk lauk.
Aku terus mengamati si semut hitam itu, kemudian, aku sempat melihat sepotong badan itu bergeming. Wahh! Semut kecil hitam itu berhasil mencabut badan temannya yang menempel di permukaan meja! Aku tidak tau berapa lama semut itu berusaha, karena sebelum aku selesai makan, aku tidak memperhatikannya. Tp, dari sejak aku memperhatikan hingga semut itu berhasil, kira-kira ada 3 menit. Setelah berhasil mencabut dan kemudian mengangkat sepotong badan temannya, semut kecil hitam itu ngacir entah kemana.
Dari kegigihan semut kecil ini menolong temannya, aku berpikir bahwa hewan pun sebenernya punya nurani, punya rasa kesetiakawanan. Makhluk (yang katanya) tak berakal ini bisa punya kelakuan yang tampak manusiawi, bagaimana dengan manusia? Seharusnya manusia bisa lebih bermoral daripada seekor semut.
Teringat kata-kata seorang kawan: “sekarang ini, hewan pada malah sering bertindak secara manusiawi, dan sebaliknya, manusia malah lebih memilih bertindak sesuai naluri kebinatangannya”.
Absolutely, I’m agree with his statement!
beidewei aniwei, tindakan semut hitam kecil itu tak sempat ku abadikan melalui sebuah gambar. Karena pada saat itu, hapeku berada di kamarku yang letaknya di lantai dua. Aku tidak mengambil hapeku karena takut akan kehilangan moment berharga ini.

13.1.13



Burung ini nyasar masuk ke kamar adek. Bisa-bisanya yahh… padahal kamar adek di bagian belakang. Untung aja gak ada si Mus. Saat saya tangkap tadi, terbangnya gak stabil, dan ada serangga terbang kecil2 mirip lalat yang keluar dari tubuhnya. Jangan-jangan burung ini terjangkit virus yang sengaja di kirim *lebay. 

Burung apakah ini? Tekukur kah?

5.11.12

Seharusnya ku tuliskan tadi pagi setelah mengalaminya. Tapi aku tidak sempat, hingga lupa. Tetapi, pada saat duduk-duduk dengan ibu sore tadi, teringat bahwa aku pernah mengalami ini saat pagi, tp dalam situasi yang berbeda, ada orang lain.
Ini adalah cerita tentang mimpi yang ku alami sebelum aku bangun pagi ini.
====
Aku dan ibuku pergi ke suatu tempat. Entah dimana, tapi hanya kami berdua. Aku tidak mengenal tempat itu dan seluruh penghuninya, tetapi ibuku tau dan kenal siapa mereka. Sepertinya ibu sangat merindukan mereka. 
Lalu, ibu mengenalkanku kepada seorang pria. Umurnya sekitar 40 tahunan, kulitnya coklat tetapi cukup manis ku rasa. Diwajahnya tersusun rapi brewok tipis yang membuatnya tampak terlihat memesona. Ibu ku mengenalkannya sebagai calon suaminya. 
Ekspresi kaget tak dapat ku tahan. Tp, aku merasa sedikit senang jika dia jadi ayahku. Karena wajahnya terlihat teduh seperti ayah-ayah pada umumnya, tidak seperti ayahku. 
“Lalu bagaimana dengan papa?”, tanyaku. 
“Papa telah mengizinkan”, jawab ibuku. 
Sedikit mengganjal. Ayah mengizinkan? Ada apa dengannya? Apa yang tengah dipikirkannya hingga bisa mengizinkan istrinya untuk poliandri? Entahlah. 
Lalu, sebuah pesta diadakan di tempat itu. Sederhana namun cukup meriah dengan dekorasi serba kuning keemasan. Tapi ada yang aneh. Aku tidak melihat keluarga ku hadir, tak ada ayah, kakak, dan adek. Hanya aku, ibuku, suami barunya, dan orang-orang yang tidak ku kenal.
====
Mimpi yang aneh yaa…. 
Saat menuliskan mimpi ini, aku lalu teringat sesuatu. Tentang gosip yang dulu pernah mengguncang keluargaku. Bahwa, ayahku telah menikah siri dengan perempuan lain. Dan kesimpulan yang dibuat oleh tanteku saat ayah tidak mau transparan tentang gaji dan pengeluarannya. Dan betapa pelitnya ayah dalam mengeluarkan uang untuk anak-anaknya. Tanteku berpendapat bahwa ayah sedang menanggung anak istrinya yang lain.
Terserah. 
Aku sudah tidak peduli lagi dengannya.

28.9.12

Siang tadi, saat saya sedang berada di toko perlengkapan bayi dan anak. Ada dua bocah lelaki yg menarik perhatian ku. Bocah lelaki kurus, dengan antengnya berdiam di sudut, sambil bermain game dengan ipad. Bocah lelaki yg lain bertubuh gendut, pipinya chubby, lucu ku rasa. Dengan sangat aktifnya bermain sendirian. Beraksi seperti sedang berkelahi ala mortal combat dan terus mengeluarkan suara seperti layaknya beatbox. Sesekali si bocah gendut datang mendekati si bocah kurus. Tertarik melihat permainan di ipad tersebut. Tapi, si bocah kurus hanya mengacuhkan dan tetap asik bermain. Kemudian, si bocah gendut kembali asik dengan jurus-jurus mautnya. Aku hanya bisa berdoa agar salah satu jurusnya tidak mengenaiku yg sedang duduk tak seimbang di belakangnya.

25.9.12

"Putramu yang lanang putihan po? Anakmu yang wedhok malah item. Rak kebalik?"
Protes teman ibuku setelah melihatku keluar dari dapur.

24.9.12

Di beranda facebook saya ada foto dari salah satu temen Bavarian. Doi memajang foto lapak martabaknya, dimana seluruh staff di lapak tersebut menggunakan jersey Bayern Munchen. Saya lalu teringat dengan kejadian kamis lalu, tanggal 20 September 2012.
Sekitar jam 2 siang, saya dalam perjalanan menuju ke kampus dengan menggunakan bis kota. Di tengah jalan, tepatnya di Jalan Singosari, saya melihat sebuah gerobak bakso bertuliskan “LAPERPOOL”. Gerobak yang unik menurut saya. Gerobak tersebut sama dengan gerobak bakso pada umumnya, warna yg mendominasi adalah merah. Lalu di kedua sisi kiri dan kanan, tertera dengan jelas lambang salah satu klub sepak bola di Inggris, Liverpool.
Hmm… Liverpudlian yang kreatif!

23.9.12

“Dalam sehari, naik 2 kg?! Gak mungkin!!”
“Kasian timbangannya! Jangan disalahkan! Terima fakta!”