16.2.13

Hari ini aku memimpikan seorang teman yang saya panggil 'grandpa'. Agak lupa gimana detilnya, tapi, perasaan menyenangkannya gak terlupakan, sangat terasa. Nyata.
Aku sedang di sebuah pertunjukan seni favoritku. Lalu, grandpa datang duduk di sampingku. Saat itu aku sudah bahagia sekali, walaupun selama pertunjukkan kami asyik menikmati apa yg ada di depan kami, tanpa berbicara satu sama lain.
Setelah pertunjukan usai, granpa mengeluarkan gulungan kertas dari ranselnya. Katanya, ada tugas yang harus dia selesaikan hari itu juga. Aku ingin membantunya, tapi aku tidak paham dengan bidang yg digelutinya. Akhirnya aku hanya menjadi pengamat.
Lalu, kami berjalan-jalan menuju sebuah toko yang menjual berbagai tanaman yang digunakan sebagai jamu dan spa.
Selama perjalanan, grandpa memegang tanganku. Dengan malu-malu. Aku juga, tersipu malu. Tapi, bahagia.
Selama di toko, kami terus mengobrol tentang tanaman2 yg dijual di toko. Grandpa menjelaskan banyak hal, yang membuatku terpesona —sama seperti saat pertama kali bertemu dengannya— dan membuat ku deg-degan lagi.
Sepulang dr toko tanpa membeli apa pun, kami berjalan dengan penuh bahagia. Entah apa yg membuat kami bahagia. Yang jelas, dengan hanya bersamanya, aku bahagia.
Sekali lagi, kami berpegangan tangan. Dengan rasa malu-malu.
Saat aku terbangun, deg-degan yang kurasa saat aku berada dlm mimpi, masih terbawa.
Apakah aku merindukannya? Atau dia yang merindukan ku? Ahh, tidak mungkin dia yg merindukanku ya…

11.2.13


Senin, 11-02-13, sekitar pukul 14:00 wib. Gingsul ku dicabut paksa dr tempatnya. Pertama kalinya liat gigiku berlumur darah, mengerikan! menurut org yg mencabutnya, gigiku ini panjang sekali. Hohoho. Gigi ini akan ku jaga sebaik-baiknya dari jangkauan peri gigi.

1.2.13

Baru saja selesai menikmati nikmatnya makan pagi (sekaligus makan siang). Setelah selesai makan, seperti biasa aku duduk-duduk dulu untuk membuat perutku nyaman. Tidak enak rasanya setelah makan kemudian langsung berdiri. Makanan yang ditelan juga butuh waktu untuk mengalir hingga ke organ pencernaan.
Sembari duduk-duduk, aku memperhatikan ada kegiatan tak lazim di depanku. Seekor semut berwarna hitam sedang mondar mandir mengitari sebuah titik kecil hitam di meja makan. Ku pikir tadinya itu makanan yang menempel. Karena si semut berusaha menariknya. Si semut hitam terlihat panik dan bingung (entah kenapa aku bisa berpikir seperti ini). Setelah aku perhatikan dengan seksama, titik kecil hitam itu bukanlah makanan. Namun, bagian tubuh seekor semut yang telah tewas. Semut hitam yang sedang panik itu ternyata berusaha mengangkat tubuh temannya. Dia mencoba dari berbagai sisi, tapi sedikitpun tak bergeming. Mendadak aku merasa bersalah. Mungkin aku yang membunuhnya secara tidak sengaja saat menggeser mangkuk-mangkuk lauk.
Aku terus mengamati si semut hitam itu, kemudian, aku sempat melihat sepotong badan itu bergeming. Wahh! Semut kecil hitam itu berhasil mencabut badan temannya yang menempel di permukaan meja! Aku tidak tau berapa lama semut itu berusaha, karena sebelum aku selesai makan, aku tidak memperhatikannya. Tp, dari sejak aku memperhatikan hingga semut itu berhasil, kira-kira ada 3 menit. Setelah berhasil mencabut dan kemudian mengangkat sepotong badan temannya, semut kecil hitam itu ngacir entah kemana.
Dari kegigihan semut kecil ini menolong temannya, aku berpikir bahwa hewan pun sebenernya punya nurani, punya rasa kesetiakawanan. Makhluk (yang katanya) tak berakal ini bisa punya kelakuan yang tampak manusiawi, bagaimana dengan manusia? Seharusnya manusia bisa lebih bermoral daripada seekor semut.
Teringat kata-kata seorang kawan: “sekarang ini, hewan pada malah sering bertindak secara manusiawi, dan sebaliknya, manusia malah lebih memilih bertindak sesuai naluri kebinatangannya”.
Absolutely, I’m agree with his statement!
beidewei aniwei, tindakan semut hitam kecil itu tak sempat ku abadikan melalui sebuah gambar. Karena pada saat itu, hapeku berada di kamarku yang letaknya di lantai dua. Aku tidak mengambil hapeku karena takut akan kehilangan moment berharga ini.