16.2.13

Malu-Malu

Hari ini aku memimpikan seorang teman yang saya panggil 'grandpa'. Agak lupa gimana detilnya, tapi, perasaan menyenangkannya gak terlupakan, sangat terasa. Nyata.
Aku sedang di sebuah pertunjukan seni favoritku. Lalu, grandpa datang duduk di sampingku. Saat itu aku sudah bahagia sekali, walaupun selama pertunjukkan kami asyik menikmati apa yg ada di depan kami, tanpa berbicara satu sama lain.
Setelah pertunjukan usai, granpa mengeluarkan gulungan kertas dari ranselnya. Katanya, ada tugas yang harus dia selesaikan hari itu juga. Aku ingin membantunya, tapi aku tidak paham dengan bidang yg digelutinya. Akhirnya aku hanya menjadi pengamat.
Lalu, kami berjalan-jalan menuju sebuah toko yang menjual berbagai tanaman yang digunakan sebagai jamu dan spa.
Selama perjalanan, grandpa memegang tanganku. Dengan malu-malu. Aku juga, tersipu malu. Tapi, bahagia.
Selama di toko, kami terus mengobrol tentang tanaman2 yg dijual di toko. Grandpa menjelaskan banyak hal, yang membuatku terpesona —sama seperti saat pertama kali bertemu dengannya— dan membuat ku deg-degan lagi.
Sepulang dr toko tanpa membeli apa pun, kami berjalan dengan penuh bahagia. Entah apa yg membuat kami bahagia. Yang jelas, dengan hanya bersamanya, aku bahagia.
Sekali lagi, kami berpegangan tangan. Dengan rasa malu-malu.
Saat aku terbangun, deg-degan yang kurasa saat aku berada dlm mimpi, masih terbawa.
Apakah aku merindukannya? Atau dia yang merindukan ku? Ahh, tidak mungkin dia yg merindukanku ya…

0 komentar:

Posting Komentar